Denpasar, Kompas Dewata — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan hari ini, Kamis (9/7/2026). Pergerakan mata uang Garuda tercatat merosot tajam, menjauhi level psikologis sebelumnya dan semakin mendekati angka Rp 18.100 per dolar AS.
Berdasarkan pemantauan di pasar spot exchange pada sesi pagi, rupiah dibuka melemah 59 poin atau sekitar 0,33 persen ke level Rp 18.073 per dolar AS. Tren pelemahan ini terus berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp 18.091 pada pukul 10.30 WIB. Kondisi ini menunjukkan koreksi nyata dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Pelemahan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Tekanan terhadap dolar AS juga melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia, seperti Baht Thailand yang turut melemah 0,1 persen, menandakan tingginya perburuan investor global terhadap aset safe haven dolar AS.
Rincian Kurs Dolar AS di Bank Besar Hari Ini
Bagi Anda yang berencana melakukan transaksi penukaran valuta asing atau memiliki kebutuhan perdagangan ekspor-impor hari ini, berikut adalah rincian kurs jual dan beli dolar AS di empat bank besar nasional pada sesi pagi (9/7/2026):
| Bank | Harga Beli (Rp) | Harga Jual (Rp) | Kategori |
| BCA | 18.062 | 18.082 | e-Rate |
| Bank Mandiri | 18.040 | 18.070 | Special Rate |
| BRI | 17.996 | 18.026 | TT Counter |
| BNI | 18.050 | 18.090 | Special Rate |
(Catatan: Nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan masing-masing bank dan fluktuasi pasar sepanjang hari).
Sentimen Global Menjadi Pemicu Utama
Pelemahan rupiah pada pekan kedua Juli 2026 ini sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan politik internasional. Para pelaku pasar keuangan saat ini bersikap wait and see (menunggu) dan cenderung berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di pasar negara berkembang (emerging markets).
Beberapa faktor penentu yang membebani pergerakan rupiah hari ini meliputi:
- Arah Kebijakan The Fed: Spekulasi mengenai kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat yang membuat investor menahan diri dari aset berisiko.
- Ketegangan Geopolitik: Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas, memicu lonjakan harga minyak mentah dan kekhawatiran terhadap rantai pasok global.
- Evaluasi Pasar Saham: Adanya pemantauan dari lembaga pemeringkat global terhadap klasifikasi pasar modal Indonesia yang turut memberikan sentimen negatif secara domestik.
Para pengamat ekonomi memproyeksikan bahwa fluktuasi tajam masih akan membayangi pergerakan rupiah sepanjang hari ini, dengan potensi penutupan berada di rentang Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS.





